Hari ini saya pulang kerumah kita
dengan gontai. Bukan karena saya kehilangan tenaga karena terus dipermainkan
oleh penatnya jalanan Jakarta. Namun karena kelelahan mengahadapi diri saya
sendiri. Menghadapi diri saya yang selalu tulus ketika bersamamu. Menghadapi
diri saya yang selalu menggapaimu yang semakin tak terhingga. Saya pernah jatuh
cinta denganmu. Jatuh cinta hingga saya lupa membuka mata dan terbangun untuk
melangkah melanjutkan hidup. Jatuh cinta yang membuat hari-hari seolah selalu
bermimpi. Namun pada kenyataanya, manusia bermimpi adalah wujud dari terlelap
yang lupa nyenyak. Bermimpi pada dasarnya melelahkan. Otak menjadi enggan
beristirahat karena terus menerus memutar film bernama mimpi. Lantas manusiapun
terbangun dengan lelah.
Dunia kini dalam hidup saya berbeda.
Terasa lain dari sebelumnya. Hidup saya tidak lagi seperti sebelum bersamamu.
Saya kehilangan diri saya sendiri. Saya tersesat. Saya seperti berlari kedalam
hutan yang tak berpenghuni. Semak belukar selalu melukai kaki saya kemanapun
saya melangkah. Saya kerap tergelincir dan meciptakan luka-luka kecil yang
semakin lama terkumpul menjadi puluhan luka. Menerobos lari dibawah teriknya
matahari dan basahnya air hujan yang mengguyur. Ketakutan akan binatang buas
yang mengintai, yang dengan seketika mampu menerkam saya, melumat hngga tidak
bersisa nyawa. Ketakutan akan gelap yang selalu saja begitu hening dan senyap.
Tidak berhenti berfikir mengenai jalan keluar dan bagaimana caranya harus
bertahan hidup.
Malam ini saya pulang dengan perasaan
hampa menggeluti seluruh relung. Saya selalu mencoba merasakan tiap lelah yang
kamu rasakan. Saya selalu mencoba menelusuri jalan pikiranmu hingga bermuara
entah kemana. Saya berusaha selalu tidak membuatmu merasa kesepian. Saya jatuh
cinta dengamu. Seperti ketaatan pada ketuhanan yang tidak etis diragukan atau
dipertanyakan. Namun malam ini, menginjak rumah ini sudah tidak lagi sama.
Terlalu sering kekecewaan masuk beriringan. Terlalu banyak harapan tertimbun
yang tidak sempat terwujud. Namamu selalu ada pada setiapan pengharapanku pada
doa terhadap Tuhan. Tuhan seperti sedang membisikanku sesuatu.
Pergi.
Tuhan membisikannya lagi berulang
kali. Saya seperti tidak pernah bosan mendengarkanNya berbisik hal yang sama
berulang ulang. Namun, membuat saya kerap berpikir tentang bagaimana dan kapan.
Saya jatuh cinta denganmu. Mencintai
dari ketidak sengajaan hingga tak tebatas. Mencitamu dengan seribu pengharapan
tentang bahagia. Jatuh cinta selalu membuat saya terlihat seperti manusia
bodoh. Berulang kali melakukan kesalah yang sama tanpa belajar dan berubah.
Begitulah mencitaimu. Indah namun bodoh.
Sekarang adalah bagian tersulitnya.
Saya harus segera bangun dari mimpi dan bergegas mengejar kenyataan yang
menumpuk menunggu untuk diselesaikan. Saya harus berhenti mencintai dan memulai
untuk menikmati diri sendiri. Lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar