Tetapi permasalahannya adalah, dengan kasur sebesar ini, kita hanya memiliki sebuah bantal. Bantal yang hanya mampu kita nikmati dengan cara berbagi. Bantal yang dapat saja tergantikan dengan bahumu, bagi kepalaku. Namun terkadang, saya tidak sanggup membuat bahumu letih menopang kepala saya. Kita harus berbagi bantal. Mungkin dengan dua kepala dalam sebuah bantal, kita mampu berbagi mimpi. Kita bisa lebih mendekatkan wajah kita dan saling menatap lebih dekat, sehingga wajah kita masing-masinglah yang memenuhi seisi pandangan mata kita. Kita mampu merasakan hangatnya udara yang keluar dari rongga hidung masing-masing. Kita bisa saling mendengar dengkuran halus ketika terlelap.
Mungkin.
Namun, kepalamu terlalu besar. Bahkan bantal ini terasa begitu kecil. Saya tentu saja sudah pasti tersingkir. Bantal ini menjadi begitu mungil. Bantal ini selalu membuat kita getir. Mungkin kita membutuhkan bantal yang ukurannya lebih besar, atau mungkin saya perlu membantumu untuk mengicilkan kepalamu sedikit saja. Namun selalu sulit bagi kita menyelesaikan masalah kepala dan bantal.
Mungkin saya haharus menyerah. Mungkin saya harus mengalah. Mungkin juga memang saya sudah pasti kalah. Mungkin dan mungkin. Karena segalanya tidak mampu saya lawan. Karena semuanya hanyalah sebatas kemungkinan. Karena kamu tidak pernah berusaha untuk mewujudkan.
Pada akhirmya saya memilih untuk terjaga sepanjang malam. Menikmati melihatmu menelusuri mimpi. Mendengarkan dengan nikmat dengkuran halus yang mengiringimu selama memenjamkan mata. Mengusap bulu halus diatas matamu dan mengecupnya ketika kamu terlihat seperti sedang menjalani bagian buruk pada mimpimu. Meyakinkanmu secara tidak terdengar, bahwa saya selalu menemanimu.
Lantas, saya selalu lelah setiap pagi datang. Setiap hari. Saya selalu berusaha menatap matahari dengan kantuk yang meluap. Saya menghapus keringat dengan mata lelah. Bahkan terlalu lelah untuk menetskan air mata.
Seandainya saja bantal ini bisa lebih besar dan luas. Mungkin pagi ini saya masih bersamamu.
Mungkin.
Mungkin saya haharus menyerah. Mungkin saya harus mengalah. Mungkin juga memang saya sudah pasti kalah. Mungkin dan mungkin. Karena segalanya tidak mampu saya lawan. Karena semuanya hanyalah sebatas kemungkinan. Karena kamu tidak pernah berusaha untuk mewujudkan.
Pada akhirmya saya memilih untuk terjaga sepanjang malam. Menikmati melihatmu menelusuri mimpi. Mendengarkan dengan nikmat dengkuran halus yang mengiringimu selama memenjamkan mata. Mengusap bulu halus diatas matamu dan mengecupnya ketika kamu terlihat seperti sedang menjalani bagian buruk pada mimpimu. Meyakinkanmu secara tidak terdengar, bahwa saya selalu menemanimu.
Lantas, saya selalu lelah setiap pagi datang. Setiap hari. Saya selalu berusaha menatap matahari dengan kantuk yang meluap. Saya menghapus keringat dengan mata lelah. Bahkan terlalu lelah untuk menetskan air mata.
Seandainya saja bantal ini bisa lebih besar dan luas. Mungkin pagi ini saya masih bersamamu.
Mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar