Minggu, 08 Desember 2013

PENANGKAP MIMPI 2

Selamat tidur si penangkap mimpiku. Selamat mengejar mimpi lain yang lebih benderang dari cahaya yang melintas di mimpiku. Mimpi yang selalu tergantikan dengan mimpi mimpi baru. Aku tidak akan selalu sanggup terus bermimpi dan berharap kamu terus-terusan menangkap mimpi-mimpiku. Aku lelah menunggumu berhenti menangkap banyak mimpi dan berharap aku bisa menemanimu bermimpi.

Selamat tidur si penangkap mimpiku. Terima kasih untuk pernah menangkap banyak mimpiku.

Langit hampir terang, waktunya untuk terbangun dan berhenti bermimpi.

Rabu, 20 November 2013

Penangkap mimpi

"Ceritakan padaku tentang mimpi."

Setiap orang bertanya tentang mimpi, aku selalu bercerita tentangmu. Si penangkap mimpi yang kerap menangkap setiap mimpi-mimpiku dan menghabiskan sisa waktu tidurku untuk bergurau sambil bersandar di dadamu yang kamu pinjamkan semalaman. Si penangkap mimpi yang selalu hadir menemani malam panjangku dan seketika merubahnya menjadi begitu singkat namun begitu melekat. Si penangkap mimpi yang selalu berhasil membuatku menyunggingkan senyum simpul dan tanpa disadari berbisik, "aku sayang kamu".

Aku mencintai caramu menangkap setiap mimpi yang kuutarakan ataupun yang masih terkunci dibenak. Aku menyukai caramu membuatku marah dan menangis karena kesal tidak mampu menang. Aku mencintai setiap sentuhanmu ketika kita saling memeluk, menempel, mendesah hinga berpeluh keringat bersama hingga menghela nafas panjang. Aku mencintai kamu dengan seluruh ketidak mampuanku untuk selalu menjagamu hingga kamu lumpuh dan tak lagi mampu mengunyah masakan yang kusiapkan untukmu setiap harinya.

Setiap kamu melangkahkan kaki keluar pintu itu, aku selalu bertanya akankah kamu kembali hanya untuk sekedar mampir dan menangkap mimpiku esok malam. Ataukah besok pagi saya harus kembali mengumpulkan mimpi-mimpi dan menyadari bahwa tentang penangkap mimpi hanyalah bualan dan khayalanku tentang bahagia. Setiap aku melihat punggungmu melangkah jauh dan menghilang dari pandanganku, aku selalu bertanya pada logika, adakah hati akan berhenti berharap tentang tertawa bersamamu suatu hari nanti.

Ya, suatu hari nanti. Suatu hari, akan habis waktuku menemanimu menangkap mimpi-mimpiku yang tergantikan oleh cerita baru dari pemimpi lainnya. Suatu hari, aku akan kembali malas mengangkat pantat untuk beranjak dan bergegas dan menikmati sekumpulan asap di depan layar hingga pulas tertidur, tersungkur dan berliur. Suatu hari nanti kamu mungkin akan pulang kerumah dan lupa kembali untuk pulang kehatiku hanya untuk mencari mimpiku. Namun, aku memilih untuk tetap bermimpi. Bermimpi segalanya akan berakhir biasa saja pada waktunya. Aku tidak mengingini akhir yamg indah. Aku hanya ingin semua seperti sedia kala. Biasa saja. Tanpa kamu, tanpa si penangkap mimpi.

Sejenak berhenti pikirkan apa yang belum terjadi. Sekedar berada disampingmu dan tidak melakukan apa-apa sudah mampu membuatku merasa aman dan terjaga. Aku menikmati setiap detik keberadaanku bersama setiap celotehanmu, emosimu bahkan kebohonganmu. Aku tidak perduli, yang aku tau, aku menikmati caramu menyayangiku seperti apapun wujudnya.

Terima kasih sudah menjadi penangkap mimpi terbaik yang pernah menemaniku. Terima kasih telah membuat cerita baru dihariku yang terkadang kosong. Terima kasih sudah menjadi segalanya dalam waktu yang begitu singkat. Terima kasih untuk sejenak meredam ambisiku untuk mencapai sesusatu. Terima kasih, si penangkap mimpi. Selamat tidur. Sekarang waktumu bermimpi dan berhenti menangkap mimpi.

Kamis, 21 Maret 2013

PANTAI

Suara petikan gitar itu semakin keras terdengar mengitari kepala saya. Saya semakin melaju kencang berkhayal tentang sejuta hal. Saya bermimpi membiarkan jari jari kaki saya menari diatas pasir. Melepaskan selayang pandang pada lautan dan langit yang seperti tak terbatas. Menarik nafas panjang dan membiarkannya terhembus lega. Menyunggingkan senyum seiring dengan terpejam mata menikmati matahari yang sudah seharian berhasil membakar kulit saya. Saya akan seperti enggan mengangkat pantat dan lekas beranjak. Saya akan selalu seperti itu. Saya menghabiskan waktu menikmati menunggu matahari usai bertugas dan tergantikan oleh kerlipan bintang menaburi langit. Menantikan bulan memenuhi bola mata saya. Mendengarkan petikan gitar yang seperti seirama dengan desiran ombak dan angin yang mencoba mengelus punggung saya. Saya menyukai terlarut dalam waktu dengan keadaan seperti ini.

Tapi menurutmu hanya buang buang waktu.


SENJA

Mengapa mereka begitu mencintai senja?

Padahal senja tidak pernah hadir seperempat waktu dari sehari.

Mengapa rasanya senja kerap dinanti?

Padahal langit hanya mengijinkan jingga bertaburan hanya seketika.

Entahlah.

Tuhan maha aneh dengan segala keagungannya.

Jumat, 15 Maret 2013

BANTAL

Kasur ini begitu luas. Bahkan kaki-kaki kita mampu tenggelam dalam lebarnya selimut yang menutupi sebagian besar luas kasur ini. Kasurnya seperti mengikuti suhu tubuh kita. Mendingin ketika kita berpeluh keringat, namun menghangat ketika kita berpelukan karena kedinginan. Terkadang kasur ini terasa begitu nyaman hingga kita lupa untuk bermimpi, namun juga terkadang kasur ini berpasir karena masing-masing dari kita lupa untuk cuci kaki sebelum tidur. 

Tetapi permasalahannya adalah, dengan kasur sebesar ini, kita hanya memiliki sebuah bantal. Bantal yang hanya mampu kita nikmati dengan cara berbagi. Bantal yang dapat saja tergantikan dengan bahumu, bagi kepalaku. Namun terkadang, saya tidak sanggup membuat bahumu letih menopang kepala saya. Kita harus berbagi bantal. Mungkin dengan dua kepala dalam sebuah bantal, kita mampu berbagi mimpi. Kita bisa lebih mendekatkan wajah kita dan saling menatap lebih dekat, sehingga wajah kita masing-masinglah yang memenuhi seisi pandangan mata kita. Kita mampu merasakan hangatnya udara yang keluar dari rongga hidung masing-masing. Kita bisa saling mendengar dengkuran halus ketika terlelap. 

Mungkin.

Namun, kepalamu terlalu besar. Bahkan bantal ini terasa begitu kecil. Saya tentu saja sudah pasti tersingkir. Bantal ini menjadi begitu mungil. Bantal ini selalu membuat kita getir. Mungkin kita membutuhkan bantal yang ukurannya lebih besar, atau mungkin saya perlu membantumu untuk mengicilkan kepalamu sedikit saja. Namun selalu sulit bagi kita menyelesaikan masalah kepala dan bantal.

Mungkin saya haharus menyerah. Mungkin saya harus mengalah. Mungkin juga memang saya sudah pasti kalah. Mungkin dan mungkin. Karena segalanya tidak mampu saya lawan. Karena semuanya hanyalah sebatas kemungkinan. Karena kamu tidak pernah berusaha untuk mewujudkan.

Pada akhirmya saya memilih untuk terjaga sepanjang malam. Menikmati melihatmu menelusuri mimpi. Mendengarkan dengan nikmat dengkuran halus yang mengiringimu selama memenjamkan mata. Mengusap bulu halus diatas matamu dan mengecupnya ketika kamu terlihat seperti sedang menjalani bagian buruk pada mimpimu. Meyakinkanmu secara tidak terdengar, bahwa saya selalu menemanimu.

Lantas, saya selalu lelah setiap pagi datang. Setiap hari. Saya selalu berusaha menatap matahari dengan kantuk yang meluap. Saya menghapus keringat dengan mata lelah. Bahkan terlalu lelah untuk menetskan air mata.

Seandainya saja bantal ini bisa lebih besar dan luas. Mungkin pagi ini saya masih bersamamu.

Mungkin.

PERGI


Hari ini saya pulang kerumah kita dengan gontai. Bukan karena saya kehilangan tenaga karena terus dipermainkan oleh penatnya jalanan Jakarta. Namun karena kelelahan mengahadapi diri saya sendiri. Menghadapi diri saya yang selalu tulus ketika bersamamu. Menghadapi diri saya yang selalu menggapaimu yang semakin tak terhingga. Saya pernah jatuh cinta denganmu. Jatuh cinta hingga saya lupa membuka mata dan terbangun untuk melangkah melanjutkan hidup. Jatuh cinta yang membuat hari-hari seolah selalu bermimpi. Namun pada kenyataanya, manusia bermimpi adalah wujud dari terlelap yang lupa nyenyak. Bermimpi pada dasarnya melelahkan. Otak menjadi enggan beristirahat karena terus menerus memutar film bernama mimpi. Lantas manusiapun terbangun dengan lelah.

Dunia kini dalam hidup saya berbeda. Terasa lain dari sebelumnya. Hidup saya tidak lagi seperti sebelum bersamamu. Saya kehilangan diri saya sendiri. Saya tersesat. Saya seperti berlari kedalam hutan yang tak berpenghuni. Semak belukar selalu melukai kaki saya kemanapun saya melangkah. Saya kerap tergelincir dan meciptakan luka-luka kecil yang semakin lama terkumpul menjadi puluhan luka. Menerobos lari dibawah teriknya matahari dan basahnya air hujan yang mengguyur. Ketakutan akan binatang buas yang mengintai, yang dengan seketika mampu menerkam saya, melumat hngga tidak bersisa nyawa. Ketakutan akan gelap yang selalu saja begitu hening dan senyap. Tidak berhenti berfikir mengenai jalan keluar dan bagaimana caranya harus bertahan hidup.

Malam ini saya pulang dengan perasaan hampa menggeluti seluruh relung. Saya selalu mencoba merasakan tiap lelah yang kamu rasakan. Saya selalu mencoba menelusuri jalan pikiranmu hingga bermuara entah kemana. Saya berusaha selalu tidak membuatmu merasa kesepian. Saya jatuh cinta dengamu. Seperti ketaatan pada ketuhanan yang tidak etis diragukan atau dipertanyakan. Namun malam ini, menginjak rumah ini sudah tidak lagi sama. Terlalu sering kekecewaan masuk beriringan. Terlalu banyak harapan tertimbun yang tidak sempat terwujud. Namamu selalu ada pada setiapan pengharapanku pada doa terhadap Tuhan. Tuhan seperti sedang membisikanku sesuatu.

Pergi.

Tuhan membisikannya lagi berulang kali. Saya seperti tidak pernah bosan mendengarkanNya berbisik hal yang sama berulang ulang. Namun, membuat saya kerap berpikir tentang bagaimana dan kapan.

Saya jatuh cinta denganmu. Mencintai dari ketidak sengajaan hingga tak tebatas. Mencitamu dengan seribu pengharapan tentang bahagia. Jatuh cinta selalu membuat saya terlihat seperti manusia bodoh. Berulang kali melakukan kesalah yang sama tanpa belajar dan berubah. Begitulah mencitaimu. Indah namun bodoh.

Sekarang adalah bagian tersulitnya. Saya harus segera bangun dari mimpi dan bergegas mengejar kenyataan yang menumpuk menunggu untuk diselesaikan. Saya harus berhenti mencintai dan memulai untuk menikmati diri sendiri. Lagi.

Selasa, 12 Maret 2013

BODOH.

Bodoh, 

Bodoh, 

Bodoh, 

Bodoh, 

Bodoh, 

Bodoh. 

Si bodoh yg sentimentil, munafik. Pembunuh. Pembunuh perasaan diri yang selalu puas untuk terus membunuh. Lagi. Lagi. Lagi. Haus untuk terus mematikan perasaan yang tidak ada habisnya. Terlalu sentimentil untuk ukuran pelaku kriminal. Terlalu ceroboh untuk dapat dikatakan psikopat. Terlalu munafik untuk beranggapan memiliki sisi ksatria seperti Achilles. Bodoh. 

Padahal, hanya butuh mengaku lantas tidak akan perlu berjibaku dengan kebingungan. Padahal, hanya butuh menjadi sedikit lembek untuk mampu menerima semua hal jelek. Payah. Pengecut. 

Bodoh. 

Kemana saja si bodoh ini, sore ini baru datang dengan pipi masih basah dan mata yang membengkak? Kemana saja si bodoh ini beberapa waktu yang lalu ketika banyak pundak tersedia untuk mengeluh? Apa saja yang selama ini dia lakukan selama semua mata menatapnya tertawa? 

Bodoh. 

Pengecut. 

Jelas saja rasanya kecut sekarang. Jelas saja sekarang mengais pelukan tanpa satupun iba. Jelas saja. Pengecut. 

Rasanya suara pun sulit sekali terdengar, padahal jeritan terus terasa mengudara. Mungkin bukan keluar dr kerongkongan. Mungkin mengendap. Mungkin tersembunyi. Mungkin sempat hilang. Mungkin pula semua orang seketika menjadi tuli sehingga suara senyaring itu tak dapat mereka dengar. 

Bodoh. 

Untuk memejamkan mata saja sulit. Padahal yang sekarang perlu dikerjakan hanya tertidur, tersungkur, berliur dan ngelindur. 

Bodoh.